Selasa, 11 Oktober 2011

Dan Untukmu Abah, Maafkan Anakmu Ini.

            Burung Gagak

            Pada suatu sore seorang ayah bersama anaknya yang baru saja
            menamatkan pendidikan tinggi duduk berbincang-bincang di
            halaman sambil memperhatikan suasana di sekitar mereka.
            Tiba-tiba seekor burung gagak hinggap di ranting pohon.
            Si ayah lalu menunjuk ke arah gagak sambil bertanya, "Nak, apakah
            benda tersebut?"

            "Burung gagak", jawab si anak.
            Si ayah mengangguk-angguk, namun beberapa saat kemudian mengulangi
            lagi pertanyaan yang sama. Si anak menyangka ayahnya kurang
            mendengar
            jawabannya tadi lalu menjawab dengan sedikit keras, "Itu burung
            gagak
            ayah!" Tetapi sejenak kemudian si ayah bertanya lagi pertanyaan yang

            sama.Si anak merasa agak marah dengan pertanyaan yang sama dan
            diulang-ulang, lalu menjawab dengan lebih keras, "BURUNG GAGAK!!"
            Si ayah terdiam seketika. Namun tidak lama kemudian sekali lagi
            mengajukan pertanyaan yang sama sehingga membuatkan si anak
            kehilangan
            kesabaran dan menjawab dengan nada yang! ! ogah-ogahan menjawab
            pertanyaan si ayah, "Gagak ayah.......".

            Tetapi kembali mengejutkan si anak, beberapa saat kemudian si
            ayah sekali lagi membuka mulut hanya untuk bertanyakan pertanyaan
            yang sama. Dan kali ini si anak benar-benar kehilangan kesabaran dan

            menjadi marah. "Ayah!!! saya tidak mengerti ayah mengerti atau
            tidak.
            Tapi sudah lima kali ayah menanyakan pertanyaan tersebut dan sayapun

            sudah memberikan jawabannya. Apakah yang ayah ingin saya katakan????

            Itu burung gagak, burung gagak ayah.....", kata si anak dengan nada
            yang begitu marah.

            Si ayah kemudian bangkit menuju ke dalam rumah meninggalkan si
            anak yang terheran-heran. Sebentar kemudian si ayah keluar lagi
            dengan
            membawa sesuatu di tangannya. Dia mengulurkan benda itu kepada
            anaknya yang masih marah dan bertanya-tanya. Ternyata benda tersebut

            sebuah diari lama. "Coba kau baca apa yang pernah ayah tulis di
            dalam
            diari itu", pinta si ayah.

            Si anak taat dan membaca bagian yang berikut ......
            "Hari ini aku di halaman bersama anakku yang genap berumur lima
            tahun.Tiba-tiba seekor gagak hinggap di pohon. Anakku terus menunjuk
            ke arah gagak dan bertanya, "Ayah, apakah itu?" Dan aku
            menjawab, "Burung gagak".
            Walau bagaimanapun, anak ku terus bertanya pertanyaan yang sama
            dan setiap kali aku menjawab dengan jawaban yang sama. Sampai 25
            kali
            anakku bertanya demikian, dan demi rasa cinta dan sayang aku terus
            menjawab untuk memenuhi perasaan ingin tahunya. Aku berharap bahwa
            hal tersebut menjadi suatu pendidikan yang berharga."

            Setelah selesai membaca bagian tersebut si anak mengangkat muka
            memandang wajah si ayah yang kelihatan sayu. Si ayah dengan perlahan
            bersuara, " Hari ini ayah baru menanyakan kepadamu pertanyaan yang
            sama sebanyak lima kali, dan kau telah kehilangan kesabaran dan
            marah."

            Pesan moral cerita ini ialah jagalah hati kedua ibu bapakmu. Jangan
            sakiti hati mereka, karena merekalah yang telah merawat kamu di
            waktu
            kecil, dengan belaian kasih sayangnya, yang mengorbankan semua yang
            dimilikinya. Mereka merawatmu dengan penuh kesabaran dan keihklasan.

            Sayangilah mereka, sebagaimana mereka menyayangimu di waktu kecil.

            Sumber: Ungknown (Tidak Diketahui)




       

0 komentar:

Posting Komentar