Minggu, 30 Oktober 2011

Qasidah Burdah

Click Here to Download Qasidah Burdah.mp3

Qasidah Burdah - Kamaluddin

Oh my Lord! send peace and blessing on your beloved
The best and perfect creation that you've created

Maula Ya Salle Wasallim Daaeman Abaadan
Ala Habibika Khayril Khalqe Kulli Himi


Muhammadun Sayyedul Kawnayni Was Shaqalayni
Wal Fariqayni Min Urbiw Wa Min Ajami

Nabiyyonal Aamerun Naahi Fala Ahadun
Abarra Fi Qawle La Minhu Wala Na Aami

Huwal Habibul Lazi Turja Shafa Atohu
Le Kulle Hawlim Minal Ahwaale Muqtahemi

Amanat-amanat Presiden Soekarno

 Click Here to Download Amanat Presiden Soekarno

Spongebob - Ripped Pants :)

 Click Here to download Spongebob - Ripped Pants

Spongebob - Ripped Pants

(Talking)
When I ripped my pants
I thought that I had everybody on my side,
'till I went and blew it,
all sky high
and now she won't even spare a passing glance
all just because I [rip] ripped my pants.

(Whole band singing)
When big Lary came 'round just to put him down
Spongebob turned into a clown
and no girl ever wants to dance
with a fool who went and [rip] ripped his pants

(Spongebob singing)
I know I shouldn't mope around,
I shouldn't curse
but the pain feels so much worse
Cause windin up with no one is a lot less fun
then a burn from the sun
or sand in your buns....

Now I learned a lesson I won't soon forget
so listen and you won't regret
be true to yourself
don't miss your chance
and you won't end up like the fool...who...ripped...his..PAAANTS
[riiip]

Senin, 17 Oktober 2011

Soekarno Incaran CIA

TANGGAL 7 Desember 1957, pukul 19.39, Laksamana Felix Stump, panglima tertinggi Angkatan Laut (AL) AS di Pasifik, menerima perintah melalui radiogram dari Kepala Operasi Angkatan Laut (AL) Laksamana Arleigh Burke. Isinya, dalam empat jam ke depan gugus satuan tugas di Teluk Subic, Filipina, bergerak menuju selatan ke perairan Indonesia. “Keadaan di Indonesia akan menjadi lebih kritis,” demikian salah satu kalimat dalam radiogram tersebut.
Kesibukan luar biasa segera terlihat di pangkalan AL AS. Malam itu juga satuan tugas dengan kekuatan satu divisi kapal perusak, dipimpin kapal penjelajah Pricenton, bergerak mengangkut elemen tempur dari Divisi Marinir III dan sedikitnya 20 helikopter. “Berangkatkan pasukan, kapal penjelajah dan kapal perusak dengan kecepatan 20 knots, yang lainnya dengan kecepatan penuh. Jangan berlabuh di pelabuhan mana pun,” bunyi perintah Laksamana Burke.
Inilah keadaan paling genting, yang tidak sepenuhnya diketahui rakyat Indonesia. Perpecahan dalam tubuh Angkatan Darat, antara mereka yang pro dan kontra Jenderal Nasution, serta yang tidak menyukai Presiden Soekarno, mencapai titik didih. Pada saat yang sama, beragam partai politik ikut terbelah memperebutkan kekuasaan.
Kabinet jatuh bangun. Usianya rata-rata hanya 11 bulan. Paling lama bertahan hanyalah Kabinet Juanda (23 bulan), yang merupakan koalisi PNI-NU. Situasi memanas menjalar ke daerah, benteng terakhir para elite politik di pusat. Daerah terus bergolak. Pembangkangan terhadap Jakarta dimulai sejak militer menyelundupkan karet, kopra, dan hasil bumi lainnya.
Militer Indonesia yang lahir dan berkembang dari milisi berdasarkan orientasi ideologi pimpinannya, bukanlah jenis pretorian. Mereka tetap kepanjangan dari parpol, entah itu PNI, PSI, Masyumi, PKI, dan seterusnya. Terlalu kekanak-kanakan jika dikatakan tindakan sekelompok perwira mengepung Istana Bogor dan mengarahkan meriam pada 17 Oktober 1952 sebagai ekspresi ketidakpuasan semata, dan bukan percobaan “kudeta” terselubung. Demikian pula ketika Kolonel Zulkifli Lubis mencoba menguasai Jakarta, sebelum kemudian merencanakan pembunuhan atas Presiden Soekarno dalam Peristiwa Cikini, dengan eksekutor keponakan pimpinan salah satu parpol.
Bagi Gedung Putih, inilah saat tepat melaksanakan rencana tahap III, yaitu intervensi militer terbuka ke wilayah RI. Presiden Soekarno harus tamat segera. CIA di bawah Allen Dulles telah mematangkan situasi. Melalui jaringannya di Singapura, Jakarta, dan London, sebagaimana dikemukakan Audrey R Kahin dan George McT Kahin dalam bukunya yang sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia, Subversi Sebagai Politik Luar Negeri, agen-agen CIA berulang kali melakukan kontak khusus dengan Sumitro Djojohadikusumo, pencari dana untuk pemberontakan tersebut. Demikian pula dengan para perwira pembangkang seperti Kolonel Simbolon, Kolonel Fence Sumual, dan sejumlah perwira dan tokoh parpol lainnya.
Namun, ketika perintah menggerakkan elemen Armada VII dikeluarkan, keputusan itu tampak tergesa-gesa yaitu kurang dua jam setelah pembicaraan melalui telepon antara Presiden Eisenhower dengan Menlu John Foster Dulles. Itu sebabnya ketika gugus tugas AL di Teluk Subic bergerak, barulah kedua tokoh ini sadar atas alasan apa intervensi nantinya dilakukan.
Pemerintah Inggris, sekutu terdekat AS, sempat terperanjat dan menolaknya, sehingga kapal-kapal perang tersebut kembali ke pangkalannya. Namun, setelah lobi-lobi intensif, tanggal 23 Desember 1957 PM Harold Macmillan menyetujuinya dan membentuk kerja sama operasi untuk Indonesia.
***
PERTENGAHAN tahun 1958 Gedung Putih akhirnya harus mengakui kegagalannya “menegakkan demokrasi” dan “membendung komunisme” di Indonesia. KSAD Jenderal AH Nasution yang disebut AS sebagai antikomunis, bergerak di luar perkiraan. Ia menerjunkan pasukan para merebut Bandara Pekanbaru. Dari pantai timur, didaratkan Marinir untuk menggunting pertahanan pemberontak. Alhasil, Dumai yang merupakan ladang minyak Caltex, berhasil diamankan.
Pasukan Kolonel Akhmad Husein kocar-kacir, meninggalkan segala peralatan perang, termasuk senjata antiserangan udara yang belum sempat digunakan. Mereka tidak mengira serangan dadakan itu. Pesan rahasia dari Armada VII AS agar meledakkan Caltex tidak sempat lagi dipikirkan. Padahal inilah nantinya akan dijadikan kunci intervensi AS ke Indonesia. Dua batalyon Marinir AS sudah siaga penuh. Dalam tempo 12 jam, Marinir ini akan tiba di Dumai.
Sejak itu sesungguhnya tamatlah riwayat PRRI yang dimotori para kolonel pembangkang serta tokoh PSI dan Masyumi. Pentagon tercengang.
Pasukan PRRI makin terdesak, walaupun Sumitro Djojohadikusumo sebagai wakil PRRI di pengasingan tetap optimis. Kota demi kota berhasil direbut TNI hingga akhirnya para pemberontak hanya mampu melakukan perang gerilya terbatas. Bersamaan dengan itu dukungan rakyat kepada pasukan Kolonel Simbolon, Kolonel Zulkifli Lubis, Kolonel Akhmad Husein, Kolonel Dahlan Djambek, dan sejumlah perwira menengah lainnya, makin menciut. Bahkan terjangkit perpecahan intern.
CIA gagal membaca situasi. Atas rekomendasi CIA pula sedikitnya AS telah mengedrop persenjataan bagi 8.000 prajurit pemberontak. Ini belum mencakup meriam, mortir, senapan mesin berat, dan senjata antitank. AS juga melatih sejumlah prajurit Dewan Banteng dan Dewan Gajah, yang diangkut dengan kapal selam menuju pangkalan militernya di Okinawa, Jepang. Keunggulan dalam sistem persenjataan dan pendidikan militer, ternyata bukan jaminan superioritas dalam setiap pertempuran.
Penguasa Gedung Putih mulai patah semangat. Tanda kekalahan kelompok yang dibantu, yang disebutnya “patriot” sejati itu, makin jelas. Tetapi, CIA dengan intelijen AL AS, tetap memasok informasi keliru. Dalam laporannya, kekalahan pemberontak antikomunis akan mengguncang Malaya, Thailand, Kamboja, dan Laos. Ini sangat berbahaya. Atas pertimbangan itu, AS akhirnya tetap melanjutkan bantuan pada pemberontak, khususnya Permesta di Sulawesi Utara.
Belajar dari kekalahan PRRI di Sumatera, di Sulawesi Utara penerbang AS dan Taiwan memberi perlindungan payung udara bagi Permesta. Pesawat pembom malang-melintang memutus jalur transportasi laut. Ambon, Makassar, bahkan Balikpapan dihujani bom. Korban terus berjatuhan.
Namun, semua usaha ini juga menemukan kegagalan untuk menekan Jakarta. Ofensif dibalas dengan ofensif. Jenderal Nasution terus mengerahkan pasukan terbaiknya untuk merebut satu per satu pertahanan Permesta. Puncaknya ketika ALRI menembak jatuh pesawat pembom yang dikemudikan Allen Pope, warga negara AS, di Teluk Ambon pada 18 Mei 1958. Peristiwa ini tidak saja mengejutkan publik AS, tetapi juga masyarakat internasional. Apalagi Allen Pope mengaku bekerja untuk CIA. Kecaman terhadap agresi AS mulai mengalir.
Tanpa sedikit pun merasa bersalah, AS kemudian dengan gampang putar haluan. Dari membantu peralatan perang dan pelatihan pemberontak, serta menyebarkan informasi bohong mengenai ancaman komunis terhadap stabilitas Asia Tenggara jika pemberontak kalah, Gedung Putih kemudian memutuskan membantu ekonomi dan militer Indonesia.
Namun, kebijakan baru ini bukan berarti terputusnya hubungan dengan pemberontak yang disebutnya masih punya “masa depan” itu. Melalui jaringan CIA, sejumlah senjata ringan masih dipasok bagi DI/TII di Sulawesi dan Aceh, serta Permesta di Sulut. Presiden Eisenhower menyebutnya sebagai “bermain di dua pihak”.
***
KEBIJAKAN bermuka dua ini, tanpa peduli apa dan berapa banyak korban jiwa dan harta benda.
Lantas di balik selubung bahaya ancaman komunisme, AS selalu berhasil memperdayai elite militer dan politik Indonesia.
Gambaran lebih jelas mengenai Indonesia dikemukakan Presiden Eisenhower dalam konferensi gubernur negara bagian AS tahun 1953. Ia mengatakan, sumbangan AS sebesar 400 juta dollar AS membantu Perancis dalam perang Vietnam bukanlah sia-sia. Jika Vietnam jatuh ke tangan komunis, negara tetangganya akan menyusul pula. “Kita tidak boleh kehilangan Indonesia yang sangat kaya sumber daya alamnya,” ujarnya.
Bagi AS, di dunia ini hanya dikenal dua blok, yaitu komunis dan liberal. Di luar jalur itu dikategorikan sebagai condong ke komunis. Maka dengan kosmetik demikianlah bagi AS tidak ada ampun untuk seorang nasionalis seperti Soekarno. Tahap pertama operasi intelijen dengan membantu dana dua partai politik besar yang disebutnya antikomunis, agar bisa merebut suara dalam Pemilu 1955. Perolehan suara ini diharapkan akan mengurangi dukungan bagi Soekarno.
Perkiraan ini meleset. PKI yang paling tidak disukai AS dan dianggap loyal terhadap Soekarno, justru memperoleh jumlah suara mengejutkan, hingga menempatkannya di urutan kelima. Padahal tujuh tahun sebelumnya, atau tahun 1948, PKI sudah dihancurkan dalam peristiwa Madiun.
Peristiwa Madiun yang diprakarsai Muso tidak lama setelah kembali dari pengembaraannya di dunia Marxisme-Leninisme di Uni Soviet, mustahil dapat dipadamkan tanpa sikap tegas Bung Karno.
CIA tidak memahami ini. Bung Karno tetap dianggap condong ke blok komunis. Itu sebabnya setelah gagal mendanai dua partai politik dalam pemilu, CIA kemudian mencoba cara lain yang lebih keras, yaitu “menetralisir” Bung Karno.
Peristiwa penggranatan tanggal 30 November 1957 atau lebih dikenal dengan sebutan Peristiwa Cikini, misalnya, tidak bisa dilepaskan dari skenario CIA. Walaupun bukti dalam peristiwa yang menewaskan 11 orang dan 30 lainnya cedera masih simpang-siur, tetapi indikasi keterlibatan CIA sangat jelas.
Pengakuan Richard Bissell Jr, mantan Wakil Direktur CIA bidang Perencanaan pada masa Allan Dulles, kepada Senator Frank Church, Ketua Panitia Pemilihan Intelijen Senat tahun 1975, yang melakukan penyelidikan atas kasus tersebut, membuktikan itu. Ia menyebut sejumlah nama kepala negara, termasuk Presiden Soekarno, untuk “dipertimbangkan” dibunuh. Bagaimana kelanjutannya, ia tidak mengetahui. Bung Karno sendiri yakin CIA di belakang peristiwa ini. David Johnson, Direktur Centre for Defence Information di Washington, juga membuat laporan sebagai masukan bagi Komite Church.
Peristiwa Cikini yang dirancang Kolonel Zulkifli Lubis, yang dikenal sebagai pendiri intelijen Indonesia, bukanlah satu-satunya upaya percobaan pembunuhan atas Bung Karno. Maukar, penerbang pesawat tempur TNI AU, juga pernah menjatuhkan bom dan menghujani mitraliur dari udara ke Istana Presiden.
Presiden Eisenhower sendiri memutuskan dengan tergesa persiapan invasi ke Indonesia sepekan setelah percobaan pembunuhan yang gagal dalam Peristiwa Cikini. Ia makin kehilangan kesabaran. Apalagi peristiwa itu justru makin memperkuat dukungan rakyat pada Bung Karno.
Ketegangan Bung Karno dengan Gedung Putih mulai mengendur setelah Presiden JF Kennedy terpilih sebagai Presiden AS. Ia malah mengundang Bung Karno berkunjung ke Washington. Dalam pandangan Kennedy, seandainya pun Bung Karno membenci AS, tidak ada salahnya diajak duduk bersama. Kennedy yang mengutus adiknya bertemu Bung Karno di Jakarta, berhasil mencairkan hati proklamator ini hingga membebaskan penerbang Allan Pope.
Begitu Kennedy tewas terbunuh, suatu hal yang membuat duka Bung Karno, hubungan Jakarta-Washington kembali memanas. Penggantinya, Presiden Johnson yang disebut-sebut di bawah “todongan” CIA, terpaksa mengikuti kehendak badan intelijen yang “mengangkatnya” ke kursi kepresidenan. Pada masa ini pula seluruh kawasan Asia Tenggara seperti terbakar.
CIA yang terampil dalam perang propaganda, kembali menampilkan watak sesungguhnya. Fitnah dan berita bohong mengenai Bung Karno diproduksi dan disebar melalui jaringan media massa yang berada di bawah pengaruhnya. Tujuannya mendiskreditkan proklamator itu. Hanya di depan publik menyatakan gembira atas kebebasan Allan Pope, tetapi diam-diam diproduksi berita bahwa kebebasan itu terjadi setelah istri Allan Pope berhasil merayu Bung Karno. Sedang pengeboman istana oleh Maukar, diisukan secara sistematis sebagai tindak balas setelah Bung Karno mencoba menggoda istri penerbang itu.
CIA terus melakukan berbagai trik perang urat syaraf mendiskreditkan Bung Karno. Termasuk di antaranya Bung Karno berbuat tidak senonoh terhadap pramuria Soviet dalam penerbangan ke Moskwa. Jauh sebelum itu, Sheffield Edwards, Kepala Keamanan CIA pada masa Allan Dulles, pernah meminta bantuan Kepala Kepolisian Los Angeles untuk dibuatkan film cabul dengan peran pria berpostur seperti Bung Karno.
Dalam satu artikel di majalah Probe, Mei 1996, Lisa Pease yang mengumpulkan berbagai arsip dan dokumen, termasuk dokumen CIA yang sudah dideklasifikasikan, menyebut yang terlibat dalam pembuatan film itu Robert Maheu, sahabat milyarder Howard Hughes, serta bintang terkenal Bing Crosby dan saudaranya.
Lantas apa akhir semua ini?

Rabu, 12 Oktober 2011

Makna Angka 212 Wiro Sableng

Pernah tidak sahabat menonton film Wiro sableng? Atau setidaknya membaca novelnya? Wiro Sableng atau yang juga dikenal dengan julukan pendekar kapak naga geni 212 pernah populer waktu saya masih SD dulu, tiap hari minggu biasanya saya tidak pernah absen di depan TV hanya untuk menyaksikan dia mengeluarkan jurus kunyut melempar buah yang tentunya aksinya itu selalu diselingi dengan humor kocak yang bikin ngakak.

Saya yakin sahabat juga ingat bukan? Tapi pernahkah sahabat berpikir angka 212 yang merupakan trademark Wiro Sableng tidak diganti saja dengan angka 313? Pada postingan kali ini saya akan mengajak sahabat untuk memahami dan mengerti makna angka 212 melalui lirik soundtrack Wiro Sableng. Berikut liriknya:

WIRO SABLENG

Yea hahahahahaha biggrin
Kau bukan utamakan tegap gagah perkasa
Siapa dia? Wiro sableng
Membela kebenaran, membasmi kejahatan
Inilah dia Wiro Sableng
Sikapnya lucu tingkahnya aneh
Persis orang yang kurang ingatan dan tak sadar
Dia selengehan tapi cinta damai
Wiro sableng disuai banyak orang
Wiro sableng dasar sableng
Gurunya gendeng muridnya sableng.


Aku melangkah menyusuri duniamu cahaya di kehidupan
Walau rintangan menghalangi aku tetap tabah menghadapinya
Sibak gembira yang menyelimuti diri
Meraih suatu keputusan tegakkan keadilan
Seluruh jagad insani
Cahaya kemenangan menyatu hati nurani.

Wiro wiro Sableng
Sinto sinto gendeng
Wiro murid sableng
Sinto guru gendeng


Wiro Sasongko itu nama aslinya lahir dari ibu bernama Suci
Dengan ayahnya yang bernama raden Rambolang
Dan dibesarkan oleh seorang guru bernama Sinto gendeng
Atau Sinto sinto Gila


Wiro sableng mewariskan sebuah senjata sakti
Berupa kampak bermata dua berhulu satu berkepala naga
Kampak naga geni 212 namanya
Senjata pamungkas Wiro sableng yang hebat
Yang siap membasmi orang jahat


Angka 212 memiliki makna di dalam kehidupan
Dalam diri manusia terdapat dua unsur ingat duniawi dan Tuhan
Segala yang ada di dalam dunia ini terdiri atas pembagian yang berlainan
Namun merupakan pasangan
Semuanya tak dapat dipisahkan.


Gimana sobat, dari lirik lagu diatas pastinya sahabat udah tau makna 212 bukan? Penulis memilih angka 212 dengan argumen filosofis dimana di dalam novel seri pertama penulis menjelaskan bahwa, di dalam dan diluar tubuh manusia terdapat dua unsur yang saling bertentangan namun merupakan pasangan hal ini mewakili angka 2, dan semua unsur itu berasal dari yang 1 yaitu Tuhan yang maha esa.


Coba sahabat perhatikan tubuh sahabat! Berapa mata sobat? Berapa lubang hidung sobat? Berapa batang hibung sobat? Berapa telinga soba? Berapa tangan sobat? Berapa kepala sobat? Berapa tubuh sobat?
Semuanya didominasi oleh angka 2,1,dan 2 bukan? Hal inilah yang selalu mengingatkan kita bahwa semuanya ada di dunia ini berasal dari Tuhan yang mahaesa. Adapun unsur yang di luar tubuh kita contohnya yaitu: pria wanita, baik jahat, air api, gelap terang, dan masih banyak lagi yang akan membuat tangan saya keseleo jika sayamenuliskan semuanya 


Jika membahas tentang 212 saya jadi teringat kata-kata salah satu member SF, ia mengatakan “ada gelap dan terang tapi gelap sebenarnya tidaklah ada, yang ada hanyalah tidak adanya seberkas cahaya sehingga yang tampak hanyalah kegelapaan. Ada baik dan jahat, jahat itu tidak ada, yang ada hanyalah tidak adanya cahaya kebaikan sehingga yang tampak adalah kejahatan” selanjutanya saya persilahkan sahabat untuk mencernanya sendiri.


SEGALA YANG BERANEKA HAKIKATNYA SATU , SEBAB TIADA KEBENARAN YANG MENDUA
sumber : http://salga.heck.in/212-wiro-sableng.xhtml

Selasa, 11 Oktober 2011

Confession

Yaahh... copas-copas dulu gk pa2 lah y..
yg penting kita bisa belajar dari itu ..
Cheers.. :)

Dan Untukmu Abah, Maafkan Anakmu Ini.

            Burung Gagak

            Pada suatu sore seorang ayah bersama anaknya yang baru saja
            menamatkan pendidikan tinggi duduk berbincang-bincang di
            halaman sambil memperhatikan suasana di sekitar mereka.
            Tiba-tiba seekor burung gagak hinggap di ranting pohon.
            Si ayah lalu menunjuk ke arah gagak sambil bertanya, "Nak, apakah
            benda tersebut?"

            "Burung gagak", jawab si anak.
            Si ayah mengangguk-angguk, namun beberapa saat kemudian mengulangi
            lagi pertanyaan yang sama. Si anak menyangka ayahnya kurang
            mendengar
            jawabannya tadi lalu menjawab dengan sedikit keras, "Itu burung
            gagak
            ayah!" Tetapi sejenak kemudian si ayah bertanya lagi pertanyaan yang

            sama.Si anak merasa agak marah dengan pertanyaan yang sama dan
            diulang-ulang, lalu menjawab dengan lebih keras, "BURUNG GAGAK!!"
            Si ayah terdiam seketika. Namun tidak lama kemudian sekali lagi
            mengajukan pertanyaan yang sama sehingga membuatkan si anak
            kehilangan
            kesabaran dan menjawab dengan nada yang! ! ogah-ogahan menjawab
            pertanyaan si ayah, "Gagak ayah.......".

            Tetapi kembali mengejutkan si anak, beberapa saat kemudian si
            ayah sekali lagi membuka mulut hanya untuk bertanyakan pertanyaan
            yang sama. Dan kali ini si anak benar-benar kehilangan kesabaran dan

            menjadi marah. "Ayah!!! saya tidak mengerti ayah mengerti atau
            tidak.
            Tapi sudah lima kali ayah menanyakan pertanyaan tersebut dan sayapun

            sudah memberikan jawabannya. Apakah yang ayah ingin saya katakan????

            Itu burung gagak, burung gagak ayah.....", kata si anak dengan nada
            yang begitu marah.

            Si ayah kemudian bangkit menuju ke dalam rumah meninggalkan si
            anak yang terheran-heran. Sebentar kemudian si ayah keluar lagi
            dengan
            membawa sesuatu di tangannya. Dia mengulurkan benda itu kepada
            anaknya yang masih marah dan bertanya-tanya. Ternyata benda tersebut

            sebuah diari lama. "Coba kau baca apa yang pernah ayah tulis di
            dalam
            diari itu", pinta si ayah.

            Si anak taat dan membaca bagian yang berikut ......
            "Hari ini aku di halaman bersama anakku yang genap berumur lima
            tahun.Tiba-tiba seekor gagak hinggap di pohon. Anakku terus menunjuk
            ke arah gagak dan bertanya, "Ayah, apakah itu?" Dan aku
            menjawab, "Burung gagak".
            Walau bagaimanapun, anak ku terus bertanya pertanyaan yang sama
            dan setiap kali aku menjawab dengan jawaban yang sama. Sampai 25
            kali
            anakku bertanya demikian, dan demi rasa cinta dan sayang aku terus
            menjawab untuk memenuhi perasaan ingin tahunya. Aku berharap bahwa
            hal tersebut menjadi suatu pendidikan yang berharga."

            Setelah selesai membaca bagian tersebut si anak mengangkat muka
            memandang wajah si ayah yang kelihatan sayu. Si ayah dengan perlahan
            bersuara, " Hari ini ayah baru menanyakan kepadamu pertanyaan yang
            sama sebanyak lima kali, dan kau telah kehilangan kesabaran dan
            marah."

            Pesan moral cerita ini ialah jagalah hati kedua ibu bapakmu. Jangan
            sakiti hati mereka, karena merekalah yang telah merawat kamu di
            waktu
            kecil, dengan belaian kasih sayangnya, yang mengorbankan semua yang
            dimilikinya. Mereka merawatmu dengan penuh kesabaran dan keihklasan.

            Sayangilah mereka, sebagaimana mereka menyayangimu di waktu kecil.

            Sumber: Ungknown (Tidak Diketahui)




       

Untukmu Ibu...

Ibunda

Kalau ibunda membelai rambutmu
kalau ibunda mengusap keningmu, memijiti kakimu
Nikmatilah dengan syukur dan bathin yang bersujud
Karena sesungguhnya Allah sendiri yang hadir dan maujud
Kalau dari tempat yang jauh engkau kangen kepada ibunda
Kalau dari tempat yang jauh ibunda kangen kepada engkau,
dendangkanlah nyanyian puji-puji tuk Tuhanmu
Karena setiap bunyi kerinduan hatimu adalah
Sebaris lagu cinta Allah kepada segala ciptaanNya
Kalau engkau menangis
Ibundamu yang meneteskan airmata
Dan Tuhan yang akan mengusapnya
Kalau engkau bersedih
Ibundamu yang kesakitan
Dan Tuhan yang menyiapkan hiburan-hiburan
Menangislah banyak-banyak untuk ibundamu
Dan jangan bikin satu kalipun ibumu menangis karenamu
Kecuali engkau punya keranian untuk membuat Tuhan naik pitam kepada hidupmu
Kalau ibundamu menangis,
para malaikat menjelma jadi butiran-butiran air matanya
Dan cahaya yang memancar dari airmata ibunda
membuat para malaikat itu silau dan marah kepadamu
Dan kemarahan para malaikat adalah kemarahan suci
sehingga Allah tidak melarang mereka tatkala menutup pintu sorga bagimu
Ibu kandungmu adalah ibunda kehidupanmu
Jangan sakiti hatinya, karena ibundamu akan senantiasa memaafkanmu.
Tetapi setiap permaafan ibundamu atas setiap kesalahanmu
akan digenggam erat-erat oleh para malaikat untuk mereka usulkan kepada Tuhan
agar dijadikan kayu bakar nerakamu

(Cuplikan dari buku Ibu Tamparlah Mulut anakmu - Sekelumit Catatan Harian Emha Ainun Nadjib)

Everything to Learn

Welcome to My Blog Guys..
sebelum Blog ini mulai mengepost berbagai macam postingan yang insya Allah berguna bagi kita semua. Saya akan sedikit memperkenalkan diri.
Saya neomaft, pemuda asal Pekalongan yang maen-maen di Jogja (segitu aja ye?? kan cuman dikit.. ^.^)

Singkat saja, Blog Everything to Learn ini saya buat karena memang saya kepingin apa saja yang saya dapat dalam hidup ini bisa menjadi pelajaran tersendiri bagi saya. Dan semoga saja teman-teman juga mau berbagi macam-macam hal, mulai dari musi, politik, sampai hal-hal yang unik. silakan mampir ke blog saya.
Terima kasih :)